The Development of Hadith Studies in Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama
DOI:
https://doi.org/10.18326/ijims.v15i2.227-255Keywords:
Hadith Studies; Muhammadiyah; Nahdlatul Ulama; Comparative methodology; Indonesian Islamic ScholarshipAbstract
This study examines the development of hadith studies within Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU) in South Sulawesi, focusing on their methodological patterns, institutional roles, and contextual adaptations. The research aims to analyze how both organizations integrate classical scholarship with contemporary needs and address challenges in transmission, verification, and public engagement with hadith. Employing a qualitative approach, the findings reveal that Muhammadiyah emphasizes methodological rigor through sanad and matn criticism, supported by the Majelis Tarjih and programs such as Pendidikan Ulama Tarjih (PUT), which integrates hadith studies into a broader curriculum without isolating it as a standalone discipline. Its model prioritizes maqbul hadith, thematic analysis, and contextual ijtihad to address modern socio-religious issues. In contrast, NU maintains a pesantren-based model rooted in Ahlussunnah wal Jamaah, combining traditional bandongan and sorogan methods with gradual progression from foundational texts to advanced hadith collections. NU selectively accepts weak hadith for devotional purposes, emphasizing the authority of kiai and integrating hadith with fiqh and Sufism. Both models exhibit strengths in preserving scholarly tradition while adapting to contemporary challenges; however, they face limitations in balancing tradition and critical methodology. The study contributes to the discourse on regional Islamic scholarship by highlighting the diversity and adaptability of hadith studies in South Sulawesi.
Penelitian ini mengkaji perkembangan kajian hadis dalam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan, dengan fokus pada pola metodologis, peran kelembagaan, dan adaptasi kontekstual masing-masing. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana kedua organisasi tersebut mengintegrasikan khazanah keilmuan klasik dengan kebutuhan kontemporer, sekaligus menjawab tantangan dalam aspek transmisi, verifikasi, dan keterlibatan publik terhadap hadis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, riset ini menemukan bahwa Muhammadiyah menekankan ketelitian metodologis melalui kritik sanad dan matan, yang didukung oleh Majelis Tarjih serta program Pendidikan Ulama Tarjih (PUT), dengan mengintegrasikan kajian hadis ke dalam kurikulum yang lebih luas tanpa memisahkannya sebagai disiplin tersendiri. Model ini memprioritaskan hadis maqbul, analisis tematik, dan ijtihad kontekstual untuk menjawab isu-isu sosial-keagamaan modern. Sebaliknya, NU mempertahankan model berbasis pesantren yang berakar pada Ahlussunnah wal Jamaah, menggabungkan metode tradisional bandongan dan sorogan dengan tahapan pembelajaran bertahap dari teks-teks dasar hingga kitab hadis tingkat lanjut. NU menerapkan penerimaan selektif terhadap hadis lemah untuk tujuan-tujuan ibadah, menekankan otoritas kiai, dan mengintegrasikan hadis dengan fiqh serta tasawuf. Kedua model menunjukkan kekuatan dalam menjaga tradisi keilmuan sekaligus beradaptasi dengan tantangan kontemporer, namun menghadapi keterbatasan dalam menyeimbangkan tradisi dan metodologi kritis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus keilmuan Islam regional dengan menyoroti keragaman dan daya adaptasi kajian hadis di Sulawesi Selatan.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Arifuddin Ahmad, Abd. Bashir Fatmal, Erwin Hafid

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


